Tinjauan terhadap Terjemahan Leterlek Al-Qur’an
---
**Tinjauan terhadap Terjemahan Leterlek Al-Qur’an**
**Oleh: Kangmul Ciawi**
### **Pendahuluan**
Sudah menjadi kebiasaan umum di banyak negara Muslim, termasuk Indonesia, untuk menerjemahkan Al-Qur’an secara **leterlek** (harfiah). Meskipun terjemahan ini bermanfaat sebagai pengantar, namun pendekatan ini memiliki **keterbatasan besar**, terutama jika dipakai untuk memahami **fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup (hudā)**.
Padahal Allah menegaskan bahwa:
> **ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ**
> *“Itulah Kitab (AlQuran) yang isinya tidak diragukan lagi; sebagai petunjuk bagi orang-orang yang berbuat patuh”* > (QS Al-Baqarah: 2)
### **Apa Masalah dengan Terjemahan Harfiah?**
1. **Mengabaikan Konteks Wahyu dan Fungsi Ajaran**
Misalnya ayat:
> **"وَأَقِيمُوا ٱلصَّلَوٰةَ وَآتُوا ٱلزَّكَوٰةَ"**
> *“Dirikanlah salat dan tunaikan zakat”*
Jika diterjemahkan secara harfiah, maka kata **"dirikan salat"** bisa hanya dimaknai sebagai **gerakan fisik ritual**. Padahal salat dalam Al-Qur’an berakar dari kata *ṣalla* yang juga bermakna **koneksi spiritual, pendidikan akhlak, dan kesadaran ilahi.** Maka tafsir fungsional akan memaknai ayat ini sebagai:
> *“Bangun sistem pendidikan akhlak dan distribusi sosial yang teratur dan berkelanjutan.”*
2. **Makna Kata Terbatasi Kamus Bahasa Arab**
Contoh:
> **"هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْمَلِكُ ٱلْقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلْمُؤْمِنُ ٱلْمُهَيْمِنُ..."** (QS Al-Hasyr: 23)
Terjemahan literal mungkin mengartikan "Al-Malik" sebagai "Raja", padahal secara fungsi ilahiah, **Al-Malik adalah Pengatur seluruh sistem hidup**, bukan sekadar simbol kekuasaan seperti raja dalam sistem manusia.
3. **Tidak Memunculkan Tujuan Hidup (maqāṣid)**
Misalnya:
> **"وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ"**
> *“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.”*
Terjemahan ini menyederhanakan makna **‘ibādah** hanya menjadi ritual. Padahal ‘ibādah dalam bahasa wahyu berarti **mengabdikan hidup sepenuhnya dalam sistem Allah**, baik pribadi, sosial, maupun struktural.
📌 Contoh Perbandingan: Pendekatan Harfiah vs Bahasa Wahyu
🔸 1. QS Al-Fatihah: 6
Ayat:
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
Terjemah Harfiah:
"Tunjukilah kami jalan yang lurus."
Pendekatan Bahasa Wahyu:
"Maka (dengan ajaran-Mu yakni Al-Qur’an), pedomanilah hidup kami menurut sistem penataan hidup tiada tanding."
📝 Catatan:
Terjemah harfiah hanya menampilkan arti "jalan lurus", tanpa menjelaskan bahwa maksudnya adalah sistem hidup berdasarkan wahyu. Pendekatan Bahasa Wahyu menekankan fungsi hidup, bukan sekadar arah jalan.
🔸 2. QS Al-Baqarah: 2
Ayat:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Terjemah Harfiah:
"Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang yang bertakwa."
Pendekatan Bahasa Wahyu:
"itulah kitab (Al-Qur’an) yang isinya tidak diragukan lagi, sebagai pedoman penataan hidup bagi mereka yang berbuat patuh menurut aturan Allah."
📝 Catatan:
Kata "hudan" diterjemahkan sebagai petunjuk hidup fungsional, bukan sekadar bimbingan rohani.
🔸 3. QS An-Nisa: 59
Ayat:
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ...
Terjemah Harfiah:
"Taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian..."
Pendekatan Bahasa Wahyu:
"Hiduplah menurut aturan Allah menururut sunnah Rasul-Nya, dan taatilah kebijakan dari para pemangku urusan yang tunduk pada wahyu."
📝 Catatan:
Pendekatan Bahasa Wahyu menekankan bahwa ketaatan kepada ulil amri bersyarat, yaitu jika mereka tunduk kepada sistem Allah, bukan mutlak.
🔸 4. QS Al-Anfal: 24
Ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ...
Terjemah Harfiah:
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu..."
Pendekatan Bahasa Wahyu:
"Wahai orang-orang yang beriman, tanggapilah seruan Allah melalui sunnah Rasul-Nya, saat mereka memanggilmu untuk hidup menurut tatanan kehidupan (yang Allah tetapkan)."
📝 Catatan:
Dalam tafsir bahasa wahyu, hidup bukan sekadar biologis, tapi hidup menurut sistem ilahi (al-hayat bil-huda).
🔸 5. QS Ibrahim: 24–25
Ayat (Ringkas):
كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ...
Terjemah Harfiah:
"Perkataan yang baik seperti pohon yang baik..."
Pendekatan Bahasa Wahyu:
"Sistem iman yang kokoh bagaikan pohon kuat: akarnya menghujam, cabangnya menjulang, dan buahnya terus memberi manfaat."
📝 Catatan:
Kalimat baik dalam Bahasa Wahyu bukan sekadar ucapan indah, tapi adalah sistem hidup yang memberi manfaat terus-menerus.
📎 Penutup:
Pendekatan Bahasa Wahyu menuntun kita memahami Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi petunjuk nyata menata hidup dalam semua aspek (pribadi, sosial, keluarga, politik, dst).
---
### **Mengapa Kita Butuh Pendekatan Tematik-Fungsional?**
Karena:
* **Bahasa Wahyu tidak identik dengan bahasa Arab biasa**.
* **Makna ayat tidak berdiri sendiri**, melainkan saling menjelaskan antar ayat (tafsir Al-Qur’an bil-Qur’an).
* **Al-Qur’an adalah petunjuk hidup**, bukan kitab pelajaran linguistik.
---
### **Kesimpulan**
Kita harus berhati-hati dalam memahami dan menerjemahkan Al-Qur’an. Terjemahan harfiah (leterlek) sering kali **membekukan makna hidup dari wahyu**. Sebagai gantinya, kita perlu pendekatan **tematik-fungsional**, yaitu menafsirkan ayat Al-Qur’an berdasarkan:
* **Fungsi petunjuknya**
* **Keterkaitannya dengan ayat lain**
* **Tujuan hidup manusia dalam sistem Allah (maqāṣid asy-syarī‘ah)**
Komentar
Posting Komentar