SUBHANALLAH Telaah Bahasa Wahyu: Alam Semesta yang Sibuk Melaksanakan Perintah Allah

 SUBHANALLAH


Telaah Bahasa Wahyu: Alam Semesta yang Sibuk Melaksanakan Perintah Allah


Pendahuluan


Kalimat سُبْحَانَ اللهِ (Subhanallah) merupakan salah satu ungkapan yang sangat dikenal dalam kehidupan umat Islam. Pada umumnya, Subhanallah diterjemahkan sebagai “Maha Suci Allah.”


Dalam tulisan ini, kita tidak bermaksud mengganti terjemahan yang sudah dikenal tersebut. Kita justru mencoba menelusuri bentuk kata, akar kata, dan fungsi penggunaannya, kemudian menghubungkannya dengan ayat-ayat Al-Qur'an sehingga diperoleh pemahaman yang lebih luas melalui pendekatan Tafsir Bahasa Wahyu.


Kunci pembahasannya terletak pada tiga bentuk kata:


سَبَحَ — سَبَّحَ — سُبْحَانَ


---


1. Menelusuri Bentuk Kata سَبَحَ


Dalam keterangan kamus:


سَبَحَ — سَبْحاً وسِباحَةً: عامَ.


Sabaḥa – Yasbaḥu, sabḥan wa sibāḥatan: Berenang / meluncur di air.


Selanjutnya:


وَفِي الأَرْضِ: تَبَاعَدَ فِيهَا


Dan jika (diikuti huruf fī) di bumi: Bepergian jauh / berjalan jauh di dalamnya.


Kemudian:


وَفِي حَوَائِجِهِ: تَقَلَّبَ وَتَصَرَّفَ


Dan jika (diikuti huruf fī) dalam urusan keperluannya: Bolak-balik bergerak, beraktivitas, dan mengurusnya.


Keterangan ini berkaitan dengan firman Allah:


إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا


yang menunjukkan adanya kesibukan yang panjang/banyak urusan pada siang hari.


Adapun apabila subjeknya adalah kuda:


وَالْفَرَسُ: مَدَّ يَدَيْهِ فِي الْجَرْيِ


Dan jika subjeknya kuda: Merentangkan kedua kaki depannya saat berlari cepat.


Dari berbagai penggunaan tersebut terlihat bahwa akar kata س ب ح mempunyai medan makna yang berkaitan dengan gerak, perjalanan, aktivitas, dan kesibukan dalam menjalankan sesuatu.


---


2. Bentuk Kata سَبَّحَ


Kata berikutnya adalah:


سَبَّحَ: قَالَ سُبْحَانَ اللهِ


Sabbaḥa: Mengucapkan kalimat “Subhanallah” (Maha Suci Allah).


Kemudian:


وَلِلَّهِ: نَزَّهَهُ وَقَدَّسَهُ


Dan jika ditujukan kepada Allah: Menyucikan-Nya dan menguduskan-Nya (dari segala kekurangan).


Selain itu:


وَصَلَّى


Dan makna lainnya adalah: Menunaikan ibadah shalat.


Dengan demikian, bentuk سَبَّحَ mempunyai hubungan langsung dengan ungkapan سُبْحَانَ اللهِ.


---


3. Apa Kedudukan Kata سُبْحَانَ؟


Keterangan kamus menyebutkan:


سُبْحَانَ: اسْمٌ بِمَعْنَى التَّنْزِيهِ، يُوضَعُ مَوْضِعَ الْمَصْدَرِ، وَلَا يُسْتَعْمَلُ إِلَّا مُضَافًا


Subḥāna: Sebuah Isim (kata benda) yang memiliki arti At-Tanzih (penyucian). Kata ini diposisikan untuk menggantikan kedudukan Masdar (kata benda abstrak), dan aturan bahasanya tidak digunakan dalam kalimat kecuali dalam keadaan Mudhaf (bersandar/disambungkan dengan kata setelahnya).


Contohnya:


سُبْحَانَ اللهِ


yang memiliki arti:


“Aku menyucikan Allah dengan sebersih-bersihnya dari segala bentuk kekurangan dan cacat.”


Di sinilah kita menemukan hubungan penting antara سَبَحَ, سَبَّحَ, dan سُبْحَانَ.


---


4. Dari Gerak dan Kesibukan Menuju Tasbih


Apabila kita kembali kepada bentuk asal سَبَحَ, kita menemukan beberapa makna:


- berenang atau meluncur,

- berjalan jauh,

- bergerak bolak-balik,

- beraktivitas dalam berbagai urusan,

- dan bergerak cepat.


Pertanyaannya kemudian:


Apakah semua makna tersebut berhenti hanya pada aktivitas manusia atau gerakan fisik?


Tafsir Bahasa Wahyu mencoba melihat hubungan yang lebih luas dengan kenyataan alam.


Alam semesta seluruhnya berada dalam aktivitas dan keteraturan. Benda-benda langit bergerak, bumi berputar, air mengalami siklus, tumbuh-tumbuhan tumbuh, makhluk hidup menjalankan fungsi kehidupannya, dan berbagai proses alam berlangsung terus-menerus.


Semesta kenyataan tidak pernah berhenti menjalankan fungsi yang telah ditetapkan bagi dirinya.


Dari sudut pandang inilah muncul gagasan:


«Tasbih alam semesta dapat dipahami sebagai kesibukan seluruh ciptaan dalam menjalankan fungsi dan ketentuan yang telah Allah tetapkan.»


---


5. Tasbih Alam Semesta dalam Al-Qur'an


Allah berfirman:


وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ


“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.”


Ayat ini membuka ruang tadabur yang sangat luas.


Tasbih tidak harus dibayangkan hanya sebagai suara yang keluar dari lisan manusia. Allah justru menyatakan bahwa manusia tidak mengerti tasbih mereka.


Dengan demikian, alam semesta mempunyai cara tersendiri dalam menjalankan tasbihnya.


Dalam pendekatan Bahasa Wahyu, salah satu cara memahami hal tersebut adalah dengan melihat gerak, fungsi, keteraturan, dan kepatuhan seluruh ciptaan terhadap ketentuan Allah.


---


6. Jangan Memikirkan Zat Allah, tetapi Renungkan Ciptaan-Nya


Dalam pembahasan ini terdapat sebuah ungkapan hadis yang sering dikemukakan:


تَفَكَّرُوا فِي خَلْقِ اللهِ وَلَا تَفَكَّرُوا فِي ذَاتِ اللهِ فَتَهْلِكُوا


“Berpikirlah tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang zat Allah, karena (jika melakukan itu) kamu akan hancur/binasa.”


Terlepas dari pembahasan mengenai sumber dan kedudukan hadis tersebut yang perlu diteliti tersendiri, kandungan yang ingin kita jadikan pijakan dalam pembahasan ini adalah:


Manusia diarahkan untuk memperhatikan ciptaan Allah, bukan membayangkan hakikat Zat Allah.


Manusia mempunyai keterbatasan. Karena itu, upaya memahami kebesaran Allah dapat dilakukan dengan memperhatikan ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran-Nya yang tampak dalam ciptaan dan kenyataan alam.


Dengan melihat alam, manusia menyaksikan keteraturan.


Dengan melihat keteraturan, manusia menemukan ketundukan.


Dengan melihat ketundukan, manusia mengenal kebesaran dan kesucian Penciptanya.


---


7. Thau'an dan Karhan: Ketundukan Alam kepada Allah


Hubungan ini semakin menarik apabila kita memperhatikan firman Allah dalam Surah Fussilat ayat 11:


فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ


“...Lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua (mematuhi perintah-Ku) dengan suka rela (thau'an) atau terpaksa (karhan).' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka rela'.”


Ayat ini memperlihatkan bahwa langit dan bumi berada dalam ketundukan terhadap ketetapan Allah.


Alam tidak menentukan sendiri hukum yang mengatur keberadaannya. Ia menjalankan ketentuan yang telah ditetapkan Allah.


Maka dalam pendekatan Bahasa Wahyu, gerak dan kesibukan alam semesta dapat dilihat sebagai bagian dari ketundukannya kepada Allah.


---


8. Subhanallah dan Kesadaran terhadap Semesta Kenyataan


Dari sinilah kalimat:


سُبْحَانَ اللهِ


dapat kita jadikan pintu masuk untuk melihat hubungan antara manusia, alam, dan Allah.


Ketika seseorang mengucapkan Subhanallah, ia bukan sedang membersihkan Allah dari kotoran atau sesuatu yang bersifat fisik.


Allah adalah Al-Khaliq, Pencipta seluruh kenyataan. Allah Maha Suci dari segala kekurangan.


Maka penyucian itu justru merupakan pernyataan manusia tentang kesucian dan kesempurnaan Allah, setelah manusia menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya dalam semesta kenyataan.


Dalam bahasa yang lebih sederhana:


«Kita tidak sedang membersihkan Allah; kitalah yang sedang membersihkan pikiran dan hati kita dari anggapan yang salah tentang Allah.»


---


9. Kesibukan Alam: Dari Mikro sampai Makro


Apabila kita mengamati kenyataan alam, kita menemukan gerak yang sangat luas.


Pada tingkat mikro, berbagai partikel mengalami gerak dan interaksi.


Pada tingkat makro, bumi berotasi, bumi mengelilingi matahari, bulan mengelilingi bumi, dan benda-benda langit bergerak dalam sistem yang sangat teratur.


Di bumi, air menguap, awan terbentuk, hujan turun, tumbuhan tumbuh, dan berbagai proses kehidupan terus berlangsung.


Semua itu menunjukkan bahwa alam berada dalam kesibukan menjalankan fungsi masing-masing.


Dalam pendekatan Bahasa Wahyu, kesibukan tersebut dapat menjadi bahan tadabur terhadap makna tasbih:


«Alam bertasbih dengan cara menjalankan fungsi yang telah ditetapkan Allah bagi dirinya.»


---


10. Lalu Apa Makna “Subhanallah” bagi Manusia?


Jika alam semesta berada dalam ketundukan dan menjalankan fungsi yang telah ditetapkan Allah, maka manusia sebagai makhluk yang diberi akal dan kehendak mempunyai tanggung jawab yang lebih besar.


Manusia bukan hanya diminta mengucapkan tasbih.


Manusia juga dituntut untuk menghayati maknanya dalam kehidupan.


Ketika manusia mengucapkan:


سُبْحَانَ اللهِ


maka kesadaran yang dibangun adalah:


«“Aku menyucikan Allah dari segala bentuk kekurangan dan cacat.”»


Kemudian kesadaran itu dilanjutkan dengan melihat semesta kenyataan:


«“Aku melihat ciptaan-Mu bergerak, bekerja, dan menjalankan ketentuan-Mu dengan teratur. Dari seluruh kenyataan itu aku semakin menyadari kebesaran, kekuasaan, dan kesucian-Mu.”»


Dengan demikian, tasbih tidak berhenti sebagai ucapan lisan, tetapi menjadi kesadaran hidup.


---


11. Kesimpulan Tafsir Bahasa Wahyu


Melalui telaah bentuk kata سَبَحَ — سَبَّحَ — سُبْحَانَ, kita menemukan hubungan makna yang menarik antara gerak, aktivitas, kesibukan, ketundukan, dan penyucian Allah.


Namun perlu ditegaskan bahwa hubungan tersebut merupakan pembacaan dan pengembangan makna dalam pendekatan Tafsir Bahasa Wahyu, bukan berarti semua makna leksikal sabaḥa otomatis menjadi definisi tunggal bagi Subhanallah.


Makna yang umum dan tetap menjadi dasar adalah:


سُبْحَانَ اللهِ — “Maha Suci Allah.”


Sedangkan pendekatan Bahasa Wahyu berusaha membawa manusia lebih jauh untuk memahami mengapa manusia menyatakan kesucian Allah dan bagaimana pernyataan itu dihubungkan dengan kenyataan kehidupan.


Maka ketika kita melihat alam yang terus bergerak, bekerja, dan menjalankan ketentuannya, kita dapat menjadikannya sebagai bahan tadabur:


«“Maha Suci Allah. Seluruh semesta kenyataan berada dalam ketundukan kepada ketentuan-Nya. Tidak ada kekuatan dan keteraturan di alam ini yang berdiri sendiri di luar kehendak dan ketetapan-Nya.”»


Dengan demikian, Subhanallah bukan sekadar kalimat yang keluar dari lisan, tetapi dapat menjadi kesadaran manusia ketika membaca semesta kenyataan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah.


Rumusan ringkas


سُبْحَانَ اللهِ


“Maha Suci Allah.”


Dan dalam pengembangan Tafsir Bahasa Wahyu:


«“Aku menyucikan Allah dari segala bentuk kekurangan dan cacat, setelah menyaksikan semesta kenyataan yang terus bergerak, bekerja, dan tunduk menjalankan ketentuan-Nya.”»

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuju Metodologi Terjemah Fungsional-Wahyu

I'RAB SURAT 'ALAQ AYAT 4

🌿 Bahasa Wahyu – Tafsir Surah Al-Fatihah Ayat 7